Teknologi untuk Juru Selamat Proklamasi

17 Agustus 1945 menjadi salah satu hari terpenting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Pada tanggal itu, Proklamasi kemerdekaan Indonesia, sebuah tanda terlepas dari belenggu penjajah dan kolonialisme, dibacakan oleh Sukarno.
Di Jakarta, orang-orang yang bersuka ria menyambut pembacaan teks Proklamasi. Ratusan warga berkumpul di rumah yang dihuni Sukarno, menyaksikan secara langsung saat-saat paling penting dalam perjuangan mereka.

Tapi, kegembiraan menyambut Proklamasi pada 17 Agustus tampaknya hanya terasa di beberapa kota. Berita bahwa Indonesia telah merdeka tidak segera menyebar ke seluruh negeri.

Teknologi untuk Juru Selamat Proklamasi

Dibutuhkan perjuangan keras untuk dapat mengabarkan bahwa Indonesia telah menjadi mandiri bagi telinga orang-orang di desa-desa terpencil. Bahkan, di Kalimantan, berita kemerdekaan Indonesia sebenarnya sudah didengar oleh seorang warga, tetapi ia takut menyebarkan kabar baik itu kepada warga lain.

Radio yang menjadi salah satu teknologi paling canggih saat itu masih berada dalam kendali Jepang. Rakyat harus bekerja keras agar berita kemerdekaan segera menyebar. Radio, telegram, mesin cetak dikerahkan. Meski akhirnya, masih butuh waktu lama hingga satu bulan bagi berita Proklamasi untuk menjangkau seluruh pelosok negeri.